Sinyo… Sudahlah lah Nyo

Memaknai kemerdekaan Indonesia dengan menyukuri segala hal-hal yang telah pejuang berikan. Ya salah satunya bersyukur sudah tidak lagi menjadi budak bagi Menir. Walaupun sekarang tetep sih jadi budak menir korporat.

Kebayang ngga sih gimana pribumi menjadi budak di tanah mereka sendiri, sedang segala sesuatunya dikuasai oleh Belanda. Hanya mampu tunduk dan memberikan hormat setinggi-tingginya pada Belanda. Pribumi, amat sangat rendah, monyet.

Premoedya Ananta Toer, seorang sastrawan memberikan gambaran tersebut melalui novelnya Bumi Manusia. Dalam novelnya, kental menceritakan seorang pribumi yang memperjuangkan haknya sebagai manusia. Bahwa kedudukan manusia sama, tidak ada Belanda, Pribumi semuanya memiliki hak yang sama.

Akui sajalah bahwa bangsa Eropa yang membawa peradaban modern ke Indonesia. Ya, tapi bisa ngga sih tidak merendahkan bangsa pribumi. Wong ini tanah-tanah kami kok kalian yang berkuasa. Namanya juga dijajah kali.

Perjalanan novel tersebut tidak mulus, sama halnya dengan kisah Minke memperjuangkan hak manusia terhadap bangsa kulit putih. Setelah novel-novel Pram dilarang terbit pada masa orba dan menjadi tahanan politik. Terdapat beberapa tawaran untuk mengadaptasi novel Bumi Manusia menjadi film.

Hingga akhirnya, pada taun 2014 Falcon resmi membeli hak adaptasi novel Bumi Manusia dan Anggy Umbara menjadi sutradaranya kala itu. Tidak ada perkembangan juga, pada tahun 2018 Hanung ditunjuk menjadi sutradara film Bumi Manusia.

Ya, akhirnya resmi tayang di bioskop pada 15 Agustus lalu. Iqbal sebagai Minke sukses memerankan Dilan yang berpaling pada Noni Belanda, tidak lagi dengan Milea teteh-teteh Sunda. Di sekolah Dilan eh Minke maksudnya menjadi siswa berprestasi, “nakal” juga. Suka gombalin ala remaja-remaja SMA yang berhasil membuat nostalgia kisah percintaan remaja lah.

Tapi ini bukan film Dilan. Oh lupa, duh Iqbal udah melekat banget sama Dilan. Asli, di adegannya bersama Annelis ya berasa Dilan Milea versi jaman pernjajahan aja, ngga pake motor, seragam putih abu, tapi pake kuda dan baju ala eropa.

Dilan, duh kan Minke maksudnya diterima baik oleh keluarga Mi…. Annelis. Oke-oke, ini Minke dan Annelis, bukan ini cerita soal Bumi manusia dan segala persoalannya. Tentu, membahas persoalan bumi dan manusia tidak akan cukup dalam 3 jam saja. Apalagi lebih banyak persoalan kisah romantis, OKE MINKE DAN ANNELIS.

Iya betul, kisah roman juga salah satu persoalan manusia. Tapi, kan di sini mau bahas soal penyetaraan hak. Minke yang sekolah di HBS –pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Dia belajar banyak hal, kemajuan peradaban dan Sains di Eropa.

Bangsa Eropa begitu sombong, angkuh dan berbuat semena-mena terhadap pribumi. Minke tidak bisa diam saja. Dia mengutarakan melalui pidatonya saat pesta pengangkatan Ayahnya menjadi bupati Bojonegoro. Dia juga aktif menulis dan dikagumi oleh beberapa kaum Eropa juga, Sarah dan Miriam yang ternyata lulusan HBS. Mereka mendukung Minke untuk terus menyuarakan tentang penyetaraan tersebut.

Sebelumnya, Minke bertemu Annelis di rumahnya. Berkat seorang temannya di sekolah, Robert Suuhorf. Di sana, Minke direndahkan oleh Suuhorf dan temannya Robert Mellema yang merupakan kakak dari Annelis Mellema. Tidak berlangsung lama, Ann sapaan untuk Annelis datang menghampiri Minke dan berlaku manis terhadapnya.

Ann sendiri bukan bangsa Eropa murni, dia adalah Indo, setengah Jawa dan Belanda. Ibunya, adalah wanita Jawa yang dijual ayahnya sendiri kepada salah satu pengusaha Belanda. Untuknya, Nyi Ontosoroh Ibunda Ann juga berlaku baik terhadap Minke. Ann begitu mengagumi Ibunya dan ingin menjadi wanita Jawa seutuhnya.

Menurut Ann, dia tidak seperti bangsa Indo pada umumnya. Dia memperlakukan setiap manusia sama. Dia amat lembut dan manis, pas lah kalo Mawar membawakan karakter ini. Nyi Ontosoroh yang sedari muda dirampas haknya untuk dijual kepada Belanda itu akhirnya mencoba untuk belajar dan terus belajar secara otodidak mengenai pertanian, perniagaan, peternakan melalui ayah Ann. Daripada dijual rugi, dan mampu membuktikan dia sukses menjalankan bisnis keluarga tersebut.

Kehidupan mereka berlangsung lancar, hingga akhirnya ayah Ann ditemukan meninggal di rumah persinggahan, di sana juga ternyata ada Robert Mellema. Satu keluarga dianggap terlibat pada kematian tuan Mellema. Sayangnya, Robert terlanjur kabur dan tidak bisa diadili.

Di sinilah, mulai ada konflik-konflik yang bikin sadar, oke ternyata memang ini bukan Dilan Milea in another version. Di sini pula, ternyata kesetaraan hak belum sepenuhnya berlaku. Nyi Ontosoroh sukses memukau untuk menjadi Ibu edgy nan open minded. Dengan pengetahuan yang amat luas dan berani menyuarakan haknya di hadapan pengadilan.

Bisa dibilang, Nyi Ontosoroh adalah SJW pada masa itu. Meskipun akhirnya bebas terhadap tuduhan pembunuhan Tuan Mellema. Mereka tidak lantas lepas dari masalah lainnya. Seperti yang sudah disebutkan sebelumya, bahwa Nyi Ontosoroh dijual kepada ayah Ann, untuk itu mereka tidak memiliki ikatan resmi pernikahan dihadapan hukum Belanda.

Mereka dituntut oleh anak tuan Mellema dari Belanda, mereka memiliki ikatan resmi dihadapan hukum. Berhak atas kekayaan tuan Mellema yang selama ini diurus bersama oleh Ayah dan Ibu Ann dan tentu saja berhak atas hak asuh Ann.

Hukum memang selalu berlaku timpang. Meskipun Ann dan Minke sudah resmi tercatat dalam hukum Agama. Ternyata hal tersebut tidak berlaku pada pengadilan Eropa dan Minke tidak berhak atas Ann. Perjuangan Nyi Ontosoroh untuk memperjuangakan Ann tidak bisa dimenangkan.
“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” ujar Nyi Ontosoroh kepada Minke melepas kepergian Ann ke Belanda.

Ine Febriyanti sukses membawakan perannya. Wanita pribumi yang tegas dan cerdas. Meskipun begitu, terlihat ia begitu menyayangi Ann dan tangguh mengadapi segala permasalahan pada dirinya. Iqbal… “Wes Nyo, dadi brand ambassador ruang guru ae, ben Nonik karo liyone”.

Membangkan Minke adalah laki-laki Jawa yang penuh wibawa dan begitu penyayang ulung. Nyatanya, Iqbal tidak bisa lepas dari bayang-bayang Dilan. Apalagi, di film ini dia juga terlalu banyak membahas kisah roman Ann dan Minke. Ya seperti yang sudah disebut di atas lah.

Saking fokusnya pada Dilan, hampir lupa bahwa Ibunda Minke Ayu Laksmi suskes menjiwai Jawanya. Ibu tetaplah Ibu, seberapa orang lain membencinya Ibu tetap ada untuk anak-anaknya dan memberikan nasihat terbaiknya.

Tidak ada yang menganggu di film ini, kecuali Dilan dan CGI ala Falcon hehe. Terlepas dari kontoversi pemeran dan kostum yang ramai beberapa minggu lalu. Disarankan baca novelnya atau ringkasan lah minimal.

Menonton Bumi Manusia dia hari kemerdekaan Indonesia bisa jadi pilihan tepat. Ini momen, apakah kita sudah benar-benar merdeka. Apakah kita masih suka mengeluh-eluhkan bangsa Eropa? Tidak, kita juga memiliki hak yang sama, kapasitas yang sama. Dirgahayu Bumi Indonesia Manusia dan segala persoalannya.