Ekspektasi PARASITE yang Mengganggu Inangnya

Kepada ekspekstsai yang terlalu tinggi, kamu menenggelamkanku. Begitulah kira-kira kesan yang tersampaikan setelah menonton Parasite garapan Bong Joon-ho ini. Film yang mulai tayang pada 21 Juni ini menyita perhatian banyak sineas top Indonesia. Salah satunya Joko Anwar,

Semakin mengundur waktu menonton, semakin terkontaminasi oleh review-review yang bertebaran. Hampir tidak ada review yang jelek, mulai dari jalan cerita yang sulit ditebak, dan pengalaman menonton yang berbeda dan lain sebagainya.

Sebab berangkat dengan ekspekstasi yang tinggi dan berbekal bahwa film ini mengandung banyak plot twist yang akan membuatmu terkaget-kaget, di dalam bioskop jadi sibuk menebak jalan cerita dan dan karakter masing-masing pemerannya.

Gini loh, bekal sebelum menonton “ini banyak plot twistnya,” jadi yang ada dipikiran adalah berpikir terbalik. Oh ini kan plot twist, berarti nanti habis ini jalan ceritanya begini nih, oh yang jahat ini nih. Dan hampir semua tebakanku benar. Jadi kesannya adalah, film ini FLAT.

SPOILER ALERT!!!

Jalan ceritanya tersusun rapi, saat Ki-Woo hendak merekomendasikan Ki-Jung sebagai guru les untuk Da-Song terbaca dengan jelas. Setelah itu terlambat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, yaitu saat Ki-Jung menanyakan kepada ayahnya tentang mengendarai mobil Merci. Selebihnya, ya sudah tau akan di bawa ke mana jalan ceritanya.

Nah, saat Moon-Gwang tiba-tiba datang ke rumah Mr.Park saat keluarga sedang Mr.Park sedang camping disitu sudah terlihat gamblang bahwa ada yang salah dengan Moon-Gwang. Benar saja, ya begitu lah. Takut kebanyakan spoiler. Satu lagi, geregetan sama istri Mr.Park yang teramat naif dan polos itu.

Endingnya? Hmm hmmm

Saking sibuknya menebak jalan cerita sampai tidak bisa menyerap pesan yang hendak disampaikan dalam film ini. Jadi, konon film ini menyampaikan isu sosial yang relate dengan keadaan sekarang, tentang gap society gitu lah. Sebetulnya itu memang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, jadi tidak terlalu amaze juga.


Tapi setuju sih, kalo penyusunannya epik banget. Dari komedi, isu sosial, hingga thriller dijadikan satu tapi tetep smooth abis ngga bikin ih ini apaan sih ngga nyambung. Untuk yang ini bisa banget diacungi jempol. Jempolku juga tidak berarti apa-apa sih, kalo ternyata film ini mendapatkan penghargaan Palm d’Or pada Festival Film Cannes 2019—prestasi pertama untuk film asal Korea Selatan dan banyak standing ovuation. Luar biasa bukan?

Sila langsung merapat di CGV atau Cinemaxx terdekat. Kabarnya layarnya terbatas.